(Reduksi dari Pengajian Padhang mBulan Mei 2010)
Generasi Yang Menyadap Rembulan
Jaring Nirwan Arsuka
Kelak jika ia telah tersadar, bahwa nanti akan lahir manusia dari tubuhnya, ia tercekam lagi oleh rasa longsor yang menggigilkan, dan terperangah oleh penalaran yang dibikin kekal dalam ingatan.
Terlahir kali longsor itu meyeretnya, adalah saat ia melewati puncak percintaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun dengan sang hujan, yang dengan lembut menjadi kelabu, dan akhirnya melulur batas langit dan bumi, saat langit merah lembayung adalah ketulusan langit pada hijau daratan dan biru lautan. Ia ingat, rasa sakit itu bermula dari rasa cinta terpendam dan tumbuh geramnya kerinduan saat langit memeluk eloknya cakrawala. Rasa sakit itu akibat mencintai komponen alam semesta yang asyik dan sibuk bermimpi dalam tidurnya.





