Bangbangwetan

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Artikel Artikel Bebas Aku Bersaksi, Rendra

Aku Bersaksi, Rendra

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 
Aku Bersaksi, Rendra

Catatan: KangMunzir

Aku bersyukur, di separo bulan Sya’ban, Nisfu Sya’ban, kala bulan purnama, hari Jum’at [hijriyah] Wahyu Sulaiman Rendra dengan mengucap “Allah I Love You, Allah I Love You…!” menghembuskan nafas terakhir. Allahu Akbar.

AGAK berat aku menuturkan. Hari-hari begitu cepat bergeser. Peristiwa demi peristiwa.

Aku bersyukur, hari-hari terakhir bersama dengan WS Rendra. Aku bersaksi ya Allah, Rendra kekasih-Mu. Seretlah aku, kelak, menemanimu di surga.

Minggu 19 Juli. Aku ingin istirah sejenak. Dua hari lalu bom meledak di dua tempat berbeda; Hotel Ritz Carlton dan JW Marriot, Kuningan, Jakarta. Orang-orang lebih suka berdiam di rumah.

“Tolong, temani aku menjemput Mas Emha!” kata Sis sahabat saya bertelpon. “Oke, aku mandi dulu” jawabku menyanggupi.

Bertiga kami jalan. Aku tidak bertanya mau kemana. Ketika kemudian mobil memasuki pelataran rumah sakit di Kelapa Gading, hati dan akalku mulai bisa meraba. Benar saja, di ruangan yang nyaman dan lega, Mas Willy (panggilan WS Rendra) terbaring luyu dengan sorot mata penuh optimisme. Clara Sinta, anaknya dari Sunarti, istri pertama, sedang membantu mendudukkan dibantu Arifin, asisten pribadi Mas Willy. Ken Zuraida, istrinya dan Meriam Supraba anaknya, sibuk menyiapkan obat atau makanan yang dibutuhkan. Aku salami dan kuciumi tangannya.
jenazah rendra

Jenazah Rendra

Dari berbagai pembicaraan dengan keluarga dan kalangan terdekat, Mas Willy sewaktu-waktu bisa dipindah ke rumah sakit di Singapura atau pengobatan herbal, natural dan alami. Semuanya, semata-mata untuk kepulihan Mas Willy.

Emha Ainun Nadjib, sejak Mas Willy di pindah dari rumah sakit di Cinere ke RS Harapan Kita, selalu menemani bersama Sis, jika tak ada jadwal acara di berbagai daerah. Hari demi hari selalu memonitor perkembangan kesehatan Mas Willy. Pun proses pemindahan dari RS Harapan Kita ke RS Mitra Keluarga Kelapa Gading.

Minggu 26 Juli. Aku kangen. Aku telpon Sis, bahwa aku ingin menjenguk. Aku bawa adikku yang kebetulan sedang di Jakarta untuk menemani. Clara Sinta tetap menjaganya. Arifin, Sis dan Oji [putra Jaja Mihardja] menunggu giliran, saling bahu-membahu ikut menemani.

Kembali aku salami dan kucium dengan penuh. Mas Willy sudah bisa duduk di pembaringan. Sorot matanya tetap tajam, senyumnya mengembang. Aku bilang kepada Clara Sinta. “Luar biasa perkembangannya!” Clara Sinta berkaca-kaca dan tersenyum, “Alhamdulillah, terima kasih mas…!”

Selasa 4 Agustus. Acara diskusi di Lembaga Administrasi Nasional. Aku terlambat datang. Mbah Surip meninggal, AD kawanku berbisik. Aku tergagap. Selama empat tahun ini aku merasa dekat. Minimal sebulan sekali bertemu saling sapa dan saling ejek. “Mana kopinya, hahahaha….!” Seingatku, pernah beberapa kali aku membuatkan kopi. Sebulan terakhir, Mbah Surip begitu sibuk. Bahkan aku sempat menulis, kini tanganku susah menggapainya. Mbah Surip sudah menjadi milik masyarakat.

Usai acara; bersama Emha, AD dan AS menuju rumah Mamiek Prakoso di Kampung Makassar, Mbah Surip pertama kali disemayamkan dan dimandikan. Begitu banyak masyarakat dan wartawan yang ingin menyaksikan Mbah Surip. Di pojokan teras, Dr Nursomad Kamba dan istrinya Fatin Hamama, penyair perempuan, sedang khusuk berdoa. Terlihat beberapa jamaah Kenduri Cinta ikut berdesakkan ingin mengikuti prosesi pemandian.

“Mohon wartawan menuju ke Bengkel Teater, Mbah Surip akan dikuburkan disana,” seseorang berkata mewakili Mamiek, sebagai ’shahibul mushibah.’ “Alamat lengkapnya dimana?” teriak beberapa wartawan. Masya Allah, wartawan tidak tahu alamatnya Bengkel Teater Rendra…?

Kami menyingkir. Massa begitu banyak. “Manohara, Manohara…!” Sudah tidak jelas lagi, takziyah atau sekedar fans yang ingin jumpa idolanya.

Bengkel Teater Rendra terletak di Cipayung, Pacoran Mas, Depok. Kami berempat menuju kesana. Mas Willy, yang dijadwalkan pulang dari rumah sakit memberi izin Mbah Surip dikebumikan di pekarangan kompleks Bengkel Teater. Di lokasi sudah berjubel mobil-mobil televisi. Suasana takziyah sangat tidak terasa. Kami memilih rumah penduduk 300 meter dari lokasi. Di sini, kami shalat dan berdoa.

Beberapa kawan berkumpul. Noe Letto masih dalam perjalanan. Rida, yang selama ini setia menjaga dan memijat Mas Willy juga sedang menuju lokasi. Karena lokasi agak susah dijangkau, aku pandu keduanya dengan berkali-kali telpon.

Wartawan-wartawan berlalu lalang. Mereka lupa bahwa pemilik Bengkel Teater sedang lemah terbaring sakit. Bagi industri, Mbah Surip meninggal adalah komoditi yang sangat menjual.

Kami, bersama Noe, Sis dan Rida, berdoa di depan jenazah Mbah Surip. Memohon agar dilapangkan jalannya menuju Allah, diiringi para malaikat menggendong sampai ke surga.

Pukul 20.00. Pesona Khayangan AV-5. Di rumah Clara Sinta Mas Willy kembali. Rambutnya sudah rapi. Senyumnya tetap mengembang. Bergantian kami menyalami. Kuciumi tangannya penuh cinta. Noe memijat kakinya. Emha bercerita banyak sambil berbisik. Clara Sinta, Ken Zuraida, Meriam Supraba, Teddy, anak pertama, Daniel dan Arifin setia menjaganya.

Dari pembaringan Mas Willy menyaksikan siaran langsung prosesi persamayaman Mbah Surip di rumahnya sendiri Bengkel Teater. Entah perasaan apa yang berkecamuk.

Rabu 5 Agustus. Ulang tahun Komisi Yudisial. Hari-hari melelahkan. Orang-orang terhormat berdatangan. Sejenak bercengkrama dengan Busyro Muqaddas dan Soimah, istrinya. Busyro bekas dosenku. Istrinya kawan lamaku. Beberapa personil KK saling bercanda. Sudjiwo Tedjo barusan mendalang. Tadi Emha memandu lalu lintas acara dan Novia Kolopaking bernyanyi.

Kamis 6 Agustus. Sore hari akan mengantar Sis ke stasiun Jatinegara ada agenda ke Jogja. Tiba-tiba dibatalkan karena Sis harus bertemu seseorang dahulu, diundur pagi-pagi berangkatnya.

Jam 22.00 bergeser sedikit. Selularku menyalak, “Rendra dipanggil Allah.” Aku tidak percaya. Semua yang kuhubungi selularnya sibuk. “Rendra meninggal, Mas Emha ada dimana?” kembali selularku berteriak. Aku meneteskan air mata. “Kawan-kawan ke Depok sekarang apa besok?”

Aku tidak bisa berpikir. Sis sudah meluncur ke Depok. Emha sedang pengajian Padhang Bulan di Jombang. Semula, esok paginya Emha ada meeting dengan berbagai pihak di Surabaya dan acara Bang Bang Wetan. Kedua acara di Surabaya akhirnya didelegasikan kepada anaknya, Noe dan kawannya dari Jogja, Toto Rahardjo.

Dari Surabaya pagi-pagi Emha meluncur ke Jakarta. Istrinya, Novia Kolopaking berangkat dari Jogja. Kemudian Emha memimpin doa dan mewakili keluarga mengatur prosesi upacara pemakaman.

Aku bersyukur, di separo bulan Sya’ban, Nisfu Sya’ban, kala bulan purnama, hari Jum’at [hijriyah] Wahyu Sulaiman Rendra dengan mengucap “Allah I Love You, Allah I Love You…!” menghembuskan nafas terakhir. Allahu Akbar. []

_____

Mohon maaf kepada keluarga, istri dan anak-anaknya, juga keluarga besar Bengkel Teater, jika kurang tepat dalam penyebutan nama dan yang lain.
 
(sumber:blog pribadi Kang Mundzir)
Comments
Add New Search RSS
ghd hair straightener  - ghd hair straightener   |218.86.48.xxx |2010-03-12 00:12:49
100311SLHYZ
The hero of this novel was Oliver Twist, an ghd stylers, who was thrown into a world full of poverty and crime. He suffered enormous pain, such as hunger, thirst, beating and abuse. While reading the tragic experiences of the little Oliver ghd iv styler, I was shocked by his sufferings. I felt for the poor boy, but at the same time I detested the evil Fagin and the brutal Bill. To my relief, as was written in all the best stories ghd hair straighteners, the goodness eventually conquered devil and Oliver lived a happy life in the end. One of the plots ghd mk4 that attracted me most is that after the theft, little Oliver was allowed to recover in the kind care of Mrs. Maylie and Rose and began a new life. He went for walks with them ghd mk4 styler, or Rose read to him, and he worked hard at his lessons. He felt as if he had left behind forever the world of crime chi flat irons and hardship and poverty. http://www.stylerghd.com/specials.html
nfl jerseys sale  - nfl jerseys sale   |59.58.136.xxx |2010-03-12 15:40:05
100312sllgz That must be the story of innumerable youth nfl jerseys couples, and the pattern of life of life it offers has a homely grace. It reminds you of a placid rivulet, meandering smoothly through green nfl authentic jerseys pastures and shaded by pleasant trees, till at last it falls into the vastly sea.The true friendship seeks to give,not take wholesale nfl jersey to help,not to be helped minister,not to be throwback jerseys nfl ministered unto.When you are skinning your customers , you should leave some skin on to grow so that you can skin best nhl jerseys again.
mbt chapa comfort   |117.26.202.xxx |2010-03-13 10:16:10
100313SLYZP I do not know other people opinion about mbt footwear, what kind of person I am, but in my own opinion, I would just like a child mbt sneakers playing at the seaside, for from time to time found that more than the ordinary smooth pebbles, or mbt shoes chapa a more than ordinary beauty of a shell complacent, but for display in front of me in the vast ocean of truth,mbt sport sneaker but completely not found. Not to sentimental vision to see the past, because walk mbt shoes in the past will never come back, the most intelligent way mbt chapa comfort, it is good to deal with you now - now hold in your hands, you want mbt anti shoe a real man to stand up to meet the spirit as illusory dreams of the future.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

The Silent Pilgrimage

Kalender

March 2010
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Agenda Kegiatan

No events

Medi Abdullah

Statistics

Members : 1261
Content : 186
Web Links : 6
Content View Hits : 153373

Pengunjung Online

We have 25 guests online