Ekstase Dalam Kesunyian Puisi
Aktualitas sebagai keharusan dari semua bentuk sajian seni sudah menjadi common sense yang diniscayakan oleh para penggiatnya. Dalam hubungannya dengan kontekstualitas itu pulalah tak jarang kita melihat bentuk penyajiannya memberikan porsi kompromi yang berlebih sehingga pada gilirannya mengurangi bobot pada kualitas maupun substansinya.
Bicara tentang kekinian, muncul pertanyaan—bahkan mungkin sudah menjadi kenyataan—apa asyiknya menyaksikan sebuah pentas pembacaan puisi. Di tengah arus budaya pop yang menjadikan makna kata tersaingi oleh rupa, dan peran sanjak tersingkir oleh warna, daya tarik puisi semakin dipertanyakan: apa indahnya, dimana nikmatnya.
Seperti dengan sengaja melawan pandangan umum yang diamini oleh hampir semua dari kita, Emha Ainun Nadjib bersama kelompok musik Kiai Kanjeng justru menggelar pembacaan puisi bertutur dengan judul “Presiden Balkadaba”. Meski tidak serta merta bisa dikatakan sebagai bentuk perlawanan atas budaya missal, pergelaran yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Surabaya bekerjasama dengan Komunitas Bangbang Wetan ini adalah antitesa yang sengaja di tegaskan—dalam arti pelaksanaannya jauh dari kesan ala kadarnya—untuk melahirkan sintesa baru mengenai seni kontekstual yang pernah diteriakkan Emha sekian tahun silam.
Puisi panjang yang dibacakan Emha ini sendiri lebih terkesan sebagai prosa liris yang memberikan ruang penafsiran luas bagi para pendengarnya. Meski secara harfiah Balkadaba dimaknai sebagai seekor hewan mirip keledai atau kuda yang ikut dalam kabilah besar Nabi Nuh saat air bah melanda sebagain luas tanah di bumi, puisi ini menyinggung apa saja berkenaan dengan Indonesia, peristiwa dan issue-issue terkini tentangnya atau apapun yang menjadi bagian dari concern Emha, sekaligus jangkauan pemikiran dan aktivitasnya.
Dalam pentas yang diadakan di salah satu landmark Surabaya itu, dikisahkan betapa lihainya iblis menyusup masuk ke rombongan Nuh alaihissalam . Walhasil, dalam kontingan yang semula diyakini ”disucikan” tersebut, masih terdapat unsur dunia gelap yang memang senantiasa akan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Unsur sampakan yang juga pernah diakrabi Emha dalam interaksinya dengan Teater Gandrik terlihat kental. Ditambah unsur ke-Jawa Timuran-yang dengan mudah disentuh Emha sehingga penonton yang memenuhi gedung utama Balai Pemuda itu tak jarang bertepuk, tertawa lepas dan meneriakkan umpatan yang juga di teriakkan Emha.
Menyaksikan Presiden Balkadaba yang entah mengapa seperti hendak menyambut Pilpres satu bulan kemudian itu serta yang lebih aktual adalah kedatangan Presiden SBY untuk Jembatan Suramadu dikeesokan harinya (Rabu, 10 Juni 2009) seperti mengalami igauan yang membangunkan tidur nyenyak kita dan dalam hitungan detik menyadarkan satu hal dengan rangkaian huruf besar: betapa sungguh ekstasenya mendengarkan pembacaan puisi dan pada sisi lain betapa sangat menjijikannya dunia (penulis tidak berani mengatakan Indonesia.Red).
N Prio Sanyoto
Penggiat pada Forum Jum’atan Rana-Rene (FJR)
| Comments |
|





