SURABAYA (SI) Tiga Capres Dianggap Tak Mampu Sejahterakan Rakyat– Pertunjukan Kiai Kanjeng bertajuk ”Presiden Balkadaba” yang digawangi budayawan Emha Ainun Nadjib tadi malam, menjadi ajang sindiran bagi tiga pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang tengah berebut kekuasaan.
Ketiga pasangan, yakni Mega- Prabowo, SBY-Boediono, dan JKWiranto, dianggap tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin rakyat. Alasan budayawan yang akrab dipanggil Cak Nun ini, ketiganya dinilai tidak memiliki ketulusan hati untuk menyejahterakan masyarakat dan bangsanya. ”Aku balkadaba.Aku mengurai diri jadi kristal.Aku bertopeng cahaya palsu.
Kupompa teknologi menuju budaya tanpa kecerdasan. Kristalku memancar melalui gelombang memecah pikiran manusia sampai terkeping-keping.” Itulah penggalan syair berisi kritik yang disampaikan Cak Nun pada pementasan yang digelar di Gedung Dewan Kesenian Surabaya (DKS) tadi malam.Sebuah sindiran atas kondisi negara yang kacau karena seorang pemimpin yang buruk.
Pemimpin yang tidak pernah menyejahterakan rakyatnya. Begitulah suami Novia Kolopaking itu mengekspresikan kegalauannya atas kondisi buruk masyarakat di negeri ini.Negeri yang tidak pernah makmur dan nasib rakyatnya selalu tertindas oleh kekuasaan. Di bawah iringan musik gamelan Kiai Kanjeng, Cak Nun melontarkan kritiknya.
Lewat syair-syair panjang dengan gaya bertuturnya yang mudah dicerna, Cak Nun mengupas secara gamblang segala keburukan para penguasa di negeri ini. Cak Nun mengibaratkan para pemimpin negeri ini tak ubahnya makhluk halus yang membonceng di ekor Balkadaba- binatang yang pernah turut serta dalam rombongan perahu Nabi Nuh. Sifat tersebut menurut Cak Nun tergambar jelas dari kebijakan para penguasa selama ini.
Menurutnya, sekalipun anggaran yang dikucurkan mencapai triliunan rupiah,namun hal itu tidak pernah menyentuh kepada masyarakat secara benar. Karena itu kesejahteraan rakyat tidak tercipta.Kondisi semakin buruk lantaran tiga pasangan capres- cawapres yang maju dinilai tidak memiliki sifat yang baik.
Mereka juga diibaratkan iblis yang membonceng ekor Balkadaba karena hanya pandai berkoar dengan segala janji untuk sebuah dukungan dan empati. Padahal sejatinya hal itu hanyalah kamuflase belaka. Itu sebabya, Cak Nun menilai jika semua capres dan cawapres tersebut tidak tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin rakyat.
Atas segala keburukan itulah, Cak Nun menganggap jika negara sudah tidak diperlukan lagi.Sebab keberadaannya benar-benar tidak bisa membawa manfaat bagi rakyatnya. ”Kalau sudah seperti ini maka saatnya bagi saya untuk mendeklarasikan Kabinet Laba untuk Rakyat,” tegasnya disambut riuh tepuk tangan penonton.
Dalam konsep tersebut, sejatinya Cak Nun ingin mengedepankan pentingnya laba (keuntungan) bagi rakyat. Karena itu, siapapun orangnya, apapun latar belakang dan ideologi yang dianut oleh seorang pemimpin negara ini, tidak lagi penting, asalkan bisa menyejahterakan rakyat. Bukan sebalikya, pemimpin yang hanya mengejar kepentingan pribadi dan golongan mereka sendiri.
Pementasan yang berlangsung kurang lebih dua jam tersebut berlangsung khidmad. Ratusan penonton yang hadir di Gedung DKS begitu larut dalam tembang-tembang pencerahan model Emha Ainun Najib dan Kiai Kanjengnya. Tak hanya itu, dialog-dialog singkat yang disampaikan Cak Nun kepada para penonton juga membuat suasana semakin hidup.
Tak jarang para penonton ikut tertawa dan bersuara sebagai jawaban atas kalimat yang dituturkan budayawan kondang itu. Hadir dalam pementasan itu, Menkominfo Mohammad Nuh, serta sejumlah pejabat lokal dan budayawan Jatim.Termasuk juga komunitas korban lumpur Lapindo yang pernah bersama-sama Cak Nun memperjuangkan nasibnya. (ihya’ ulumuddin)
Sumber: Koran Sindo, Rabu 10 Juni 2009, hal 1
| Comments |
|





